Sabtu, 18 Agustus 2012

Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis

Oleh : Donny Danardono
[Pengajar filsafat di Fakultas Hukum dan Program Magister Lingkungan dan Perkotaan [PMLP] Universitas Katholik Soegijapranata Semarang]

Marxisme bukan satu-satunya filsafat dan gerakan sosial yang mempromosikan sosialisme di Eropa abad 19. Ia hanya salah satu dari puluhan bentuk sosialisme. Menurut Leszek Kolakowski[1]—profesor sejarah filsafat dari Polandia dan penulis tiga buku sejarah Marxisme—para sosialis tersebut antara lain adalah Gracchus Babeuf (1760-1897) si penulis Manifeste des égaux yang menyatakan bumi adalah milik bersama dan karenanya orang miskin perlu memerangi orang kaya; Cloude Henri comte de Saint-Simon (1760-1825) yang prihatin terhadap kemiskinan kelas buruh dan mulai berpikir bahwa sejarah akan bergerak ke perbaikan nasib mereka. Kelak, Karl Marx mendalami argumentasi ini; Robert Owen (1771-1858) seorang pengusaha tekstil yang memelopori pembentukan koperasi buruh untuk memperbaiki kehidupan mereka; dan Piere-Joseph Proudhon (1809-1865) yang kecewa terhadap banyak orang kaya yang memperoleh kekayaannya tanpa kerja nyata. Baginya sosialisme adalah tatanan sosial yang terdiri dari para pemilik industri kecil yang dibiayai oleh bank-bank rakyat. Proudhon, dalam “Système des Contradictions économiques ou Philosophie de la Misère”, menolak gagasan Marx tentang sosialisme atau komunisme negara. Ia anggap komunisme sebagai sistem penyamarataan kemiskinan. Marx membalas kritik itu dalam buku The Poverty of Philosophy: Answer to thePhilosophy of Poverty by M. Proudhon’ (Brussels, 1847). Di buku itu ia menganggap Proudhon—yang pernah belajar filsafat di Jerman—tak memahami filsafat Jerman (Hegelianisme Kanan dan Kiri):

M. Proudhon has the misfortune of being peculiarly misunderstood in Europe. In France, he has the right to be a bad economist, because he is reouted to be a good German philosopher. In Germany, he has the right to be a bad philosopher, because he is reputed to be one of the ablest of French economists. Being both German and economist at the same time, we desire to protest against ths double error.[2]

Namun, menurut Kolakowski adalah Pierre Leroux—seorang penganut sosialisme Saint-Simon—yang pertama kali menggunakan istilah “sosialisme” [komunisme] di jurnal Le Globe, Prancis, pada 1830. Robert Owen—seorang pelopor sosialisme-koperasi di Inggris—juga menggunakannya pada 1830-an.[3] Kolawkoski menganggap istilah sosialisme itu berakar pada ajaran Platon tentang Republik, gerakan keagamaan menyambut kerajaan Allah di Eropa abad Pertengahan dan utopianisme Thomas More yang intinya adalah:

The abolition of private property, the universal obligation to work, the equalization of rights and wealth, the organization of production by the state, and the eradication of poverty and exploitation.[4]

Walau sama-sama menyebut diri sosialis, namun Marxisme berbeda dari berbagai bentuk sosialisme tersebut. Sosialisme non-Marxis adalah sosialisme utopis. Mereka mengangankan terwujudnya masyarakat sosialis melalui cara-cara damai atau etis. Sebaliknya Marxisme menganggap sosialisme merupakan keharusan sejarah demi emansipasi manusia. Sebuah keharusan sejarah yang tak alamiah, tapi harus diperjuangkan oleh kelas proletar:

The suggestion that Marx differs from the utopians in soteriology but not in eschatology, i.e. that he more or less shares their ideal of the future while not agreeing that it can be achieved by peaceful means, is thus seen to be erroneous. As a disciple of Hegel, he knew that truth is not only a result but also a way. […]. Socialism, therefore, can only result from a political revolution with a ‘social soul’. As we have seen, it is neither an arbitrary goal nor the mere result of history workin in the manner of a natural law, but is the outcome of the conscious struggle of dehumanized man to recover his humanity and to make the world a human place again. The proletariat, as the spearhead of that struggle, is not a mere tool of history but a conscious agent; nevertheless, it was necessary for the historical process to dehumanize it completely before the struggle was possible.[5]

Jadi, tujuan utama Marxisme adalah membeberkan sejarah konflik kelas dan krisis kapitalisme yang memunculkan kesadaran kelas proletar demi sebuah revolusi sosial menuju sosialisme. Di sinilah Karl Marx memperkenalkan istilah“pandangan sejarah materialistik” (the materialist conception of history) yang kemudian dikenal luas sebagai “materialisme historis”. Marx sebenarnya tak pernah menggunakan istilah “materialisme historis”.[6] Pandangan sejarah materialistik ini adalah kerangka pikir (metodologi) Marxisme. Pemahaman tentangnya mengandaikan pengetahuan tentang bagaimana Marx memahami kerja, keterasingan, kesadaran kelas, dan emansipasi sosial.

Kerja, Keterasingan, Kesadaran Kelas, dan Emansipasi Sosial

Pemikiran Karl Marx (1818-1883) tentang kerja dan keterasingan (alienation) ada dalam kumpulan artikel yang kelak dinamai Paris Manuscripts atau Economic and Philosophical Manuscripts. Marx menulis artikel-artikel itu antara 1844 (25-26 tahun) di Jerman dan kemudian di Paris—tempat ia mengungsi. Naskah itu merupakan kumpulan studi pribadi Marx dalam memahami dan mengkritik teori Hegel tentang negara (dan dialektika-roh), pemilikan pribadi, keterasingan, teori-teori ekonomi James Mill, Adam Smith dan Ricardo, dan lain sebagainya.[7] Berbagai artikel itu mengesankan Marx sebagai seorang humanis, bukan ekonomik-positivis seperti yang dikesankan oleh polit biro Partai Komunis Uni Sovyet.

Dipastikan Lenin dan anggota polit biro Partai Komunis Uni Sovyet tak pernah membaca Paris Manuscripts itu. Adalah David Ryazanov—direktur Marx-Engels Institute sampai 1930—yang menemukan dan menerbitkan naskah tersebut untuk pertama kalinya di Moskow pada 1928.[8] Penerbitan naskah tersebut membuat Polit Biro Partai Komunis Uni Sovyet—yang menganggap diri sebagai pewaris ajaran-ajaran Marx—merasa dipermalukan, karena lantas menjadi sasaran kritik para Marxis Eropa Barat. Ryazanov kemudian dijebloskan ke kamp konsentrasi di Siberia dan nasibnya tak pernah diketahui lagi.

Dalam Economic and Philosophical Manuscripts itu Marx membenarkan Hegel, bahwa kemanusiaan seseorang ditentukan oleh kerja dan hasil kerjanya. Seseorang bisa berkata kepada siapa saja, bahwa dirinya adalah perenang sembari menguraikan teori-teori berenangnya. Tapi siapapun baru yakin bahwa ia adalah perenang hanya apabila ia telah berenang. Jadi anggapan tentang dirinya yang perenang (sebuah konsep tentang manusia) hanya ada saat ia berenang (bekerja). Bagi Hegel, kerja membuat manusia “menaklukkan” dan berdamai dengan dunia yang semua asing baginya. Pada saat yang sama manusia juga bisa memahami siapa dirinya.

Tapi Marx bertanya mengapa banyak manusia yang terasing dari pekerjaan dan sesamanya? Mengapa kerja tak lagi merupakan perwujudan hakekat kemanusiaannya? Di mana letak kekeliruan Hegel?

Menurut Marx, kerja tak lagi mewujudkan hakekat manusia atau mengasingkan manusia, karena kerja—khususnya di kapitalisme—sudah bukan merupakan cara manusia mewujudkan ide-idenya saat menghadapi alam yang asing, tapi keharusan untuk menyambung hidup. Di kapitalisme seseorang bekerja berdasarkan pesanan dan perintah pasar. Apabila ia seorang ahli patung dan senang membuat patung kuda meringkik, maka di kapitalisme ia harus mengikuti selera pasar: membuat patung kuda dengan satu kaki terangkat. Berkatalah Marx:

The workers becomes poorer the more wealth he produces, the more his production increases in power and extent. The worker becomes an ever cheaper commodity the more commodities he produces. The devaluation of the human world grows in direct proportion to the increase in value of the world of things. […]. This fact simply means that the object that labour produces, its product, stands opposed to it as something alien, as a power independent to the producer. The product of labour is labour embodied and made material in an object, it is the objectification of labour. The realization of labour is its objectification. In the sphere of political economy this realization of labour appears as a loss of reality for ther worker, objectification as loss of  and bondage to the object, and appropriation as estrangement, as alienation [Entäusserung].[9]

Makna keterasingan dalam kerja itu adalah orang menganggap kerja bukan sebagai pengejawantahan diri, tapi sebagai kewajiban untuk hidup. Kerja menjadi sebuah keterpaksaan. Manusia hanya merasa bebas saat menjalankan fungsi-fungsi yang tak beda dari binatang:

The result is that man (the worker) feels that he is acting freely only in his animal functions—eating, drinking and procreating, or at most in his dwelling and adornment—while in his human functions he is nothing more than an animal.[10]

Akibatnya yang lebih jauh adalah manusia terasing dari sesamanya: “An immediate consequence of man’s estrangement from the product of his labour, his life activity, his species-being, is the estrangement of man from man”.[11]

Mengapa kapitalisme bisa menyebabkan keterasingan? Penyebabnya, menurut Marx, adalah karena kapitalisme di dasarkan pada pemilikan pribadi atas alat-alat produksi (tanah, mesin, pabrik). Akibatnya orang yang tak memiliki alat-alat produksi harus bekerja pada para pemilik alat-alat produksi (kapitalis) demi upah dan bertahan hidup.

Tapi bagaimana sebuah masyarakat bisa mengorganisasikan kehidupan bersama berdasarkan ‘pemilikan pribadi atas alat-alat produksi’? Menurutnya ide tentang ‘hak milik pribadi atas alat-alat produksi’ tak muncul secara kebetulan. Ia merupakan hasil dari proses panjang memikirkan efisiensi kelompok dalam melindungi diri dan menjamin kebutuhan-kebutuhannya. Pada awlanya semua individu dalam sebuah kelompok melakukan semua pekerjaan. Tapi kemudian mereka berpikir tentang pembagian kerja yang lebih efisien. Wanita yang bisa mengandung dan menyusui anak di tempatkan di sektor privat, sementara pria berburu.[12]

Marx memang berpikir tentang penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan pembentukan masyarakat komunis (dari kata ‘komune’) yang hidup berdasarkan pemilikan bersama alat-alat produksi. Tapi, bagi Marx, hak milik pribadi atas alat-alat produksi tak bisa dihapus hanya karena ia menghasilkan keterasingan. Bagaimanapun, hak milik pribadi itu muncul sebagai keharusan sejarah kerja dan pembagian kerja yang efisien.

Maka Marx memikirkan kapan dan bagaimana kapitalisme yang berdiri atas konsep pemilikan pribadi alat-alat produksi itu akan mengalami krisis, sehingga kelas proletar (dalam hal ini buruh-buruh industri) dapat mengambil alih negara, melaksanakan diktatur proletariat untuk menghapuskan pemilikan pribadi alat-alat produksi dan dengan demikian membentuk masyarakat sosialis.

Menurutnya, pada dirinya kapitalisme penuh dengan kontradiksi. Persaingan – yang merupakan akar kapitalisme – justru akan menimbulkan orang-orang miskin baru, yaitu mereka yang kalah dalam persaingan. Maka pada tahap tertentu kapitalisme akan runtuh:

The development of large-scale industry pulls from under the feet of the bourgeoisie the very foundations on which they produce goods and appropriate them. Above all it produces its own gravediggers. Its downfall and the victory of the proletariat are equally unavoidable. [13]

Materialism-Historis dan Materialisme-Dialektis

The history of all society up to now is the history of class struggles. Freeman and slvae, patrician and plebian, lord and serf, guild-master and journeyman, in short, oppressor and oppressed stood in continual conflict with one another, conducting an unbroken, now hidden, now open struggle, a struggle, that finished each time with a revolutionary transformation of society as a whole, or with the common ruin of the contending classes.[14]

Kutipan itu menunjukkan tentang sejarah masyarakat yang digerakkan oleh sejarah perjuangan kelas. Bagi Marx, masyarakat tidak terbentuk melalui proses sejarah yang damai, tapi yang penuh konflik. Konflik antara pemilik alat produksi (tuan tanah feodal dan industriawan kapitalis) versus petani (dalam feodalisme) dan/atau buruh industri (dalam kapitalisme).

Tapi hal ini tidak berarti kelas-kelas sosial itu berdiri di luar sejarah. Mereka tidak menggerakkan sejarah sesuai kehendak mereka, tapi berdasarkan lingkungan sosial yang mereka hadapi:

Men make their own history, but they do not make it just as they please in circumstances they choose for themselves; rather they make it in present circumstances, given and inherited.[15]

Itulah inti dari “the materialist conception of history”, yaitu sejarah yang membentuk dan dibentuk oleh kelas-kelas sosial yang ada. Sementara kelas-kelas sosial (dan juga jenis teknologi yang dipakai untuk kerja) terbentuk oleh hubungan-hubungan produksi yang ada (pembagian kerja antar individu dalam sebuah proses produksi).

Maka Marx menjelaskan, bahwa “the materialist conception of history” pemahaman terhadap realitas sosial selalu terdiri dari dua hal yang saling berkaitan secara dialektis, yaitu antara “bangunan bawah” (struktur ekonomi) dan “bangunan atas” (ideologi, budaya, kesadaran kelas, agama). Dengan kata lain, Marx senantiasa menjelaskan muncul dan perubahan cara produksi-cara produksi feodal, kapitalis dan sosialis berdasarkan pandangan “materialist conception of history”. Itu sebabnya ia mengatakan peralihan ke sosialisme (komunisme) tidak bisa dipaksakan, tapi harus menunggu krisis kapitalisme dan pembentukan kelas buruh yang memiliki kesadaran “class for itself” (kesadaran untuk membela kelasnya).

Jadi yang dimaksud Marx dengan “materi” dan “materialisme” adalah ekonomi, bentuk pengelolaan ekonomi (cara produksi) dan relasi-relasi ekonomi (hubungan produksi). Jadi Marx bukan penganut materialisme-metafisik. Ia tak pernah berpikir, bahwa kehidupan ini berasal-usul dari materi. Engelslah yang memikirkan hal itu. Dalam Anti-Dühring Engels menganggap, bahwa realitas hidup ini berakar dan berkembang dari materi. Kesadaran manusia adalah perkembangan tertinggi dari materi. Materialisme-dialektis dari Engels—yang baru dirumuskan—setelah Marx meninggal tampaknya dipakai untuk secara radikal memberikan dasar materi bagi keseluruhan bangunan Marxisme. sesuatu yang tidak disetujui oleh para Marxis Eropa Barat (Western Marxists, Neo-marxists), karena mereduksi konsepsi Marx tentang manusia yang bebas dan harus bebas. Materialisme tak memungkinkan manusia memiliki kebebasan.


Catatan Kaki :

[1] Leszek Kolakowski, 1982, Main Currents of Marxism: Its Origins, Growth and Dissolution: The Founders [vol. 1], Oxford, Oxford University Press, h. 182-233; selain tiga tokoh tersebut, Kolakowski juga membahas Charles Fourier (1772-1837), Étienne Cabet (1788-1856), Louis-Auguste Blanqui (1805-1881), Louis Blanc (1811-1882).

[2] Karl Marx, [tanpa tahun], The Poverty of Philosophy: Answer to thePhilosophy of Poverty by M. Proudhon’, Moscow, Foreign Languages Publishing House, h. 31; lihat juga Leszek Kolakowski, 1982, ibid., h. 205.

[3] Leszek Kolakowski, 1982, Main Currents of Marxism: Its Origins, Growth and Dissolution: The Founders [vol. 1], Oxford, Oxford University Press, h.183.

[4] Ibid., h. 184.

[5] Ibid., h. 233-234.

[6] David McLellan, 1986, Marx, London, Fontana Press, h. 38.

[7] Karl Marx, 1975, Early Writings, New York, Vintage Books.

[8] Leszek Kolakowski, 1982, op.cit., h. 259.

[9] Karl Marx, 1975, “Economic and Philosophical Manuscritps” dalam Early Writings, op.cit., h. 323-324.

[10] Ibid. h. 327.

[11] Ibid. h. 330.

[12] Ibid. h. 338 dan 347.

[13] Karl Marx, 2003, “Manifesto Communist Party”, dalam Marx: Later Political Writings, Terrell Carver (ed.), Cambridge, Cambridge University Press, h. 12.

[14] Ibid. h. 2.

[15] Karl Marx, 2003, “The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” dalam Marx: Later Political Writings, Terrell Carver (ed.), Cambridge, Cambridge University Press, h. 32.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar