Kamis, 08 Januari 2026

Madiba, Kayo, dan Buku

 

Awalnya anak bungsuku, Kayo (9 tahun), yang mulai berminat membaca buku-buku fiksi terjemahan karangan Roald Dahl. Seperti Jari Ajaib atau Mr. Fox yang Fantastis. Sementara anak sulungku, Madiba (11 tahun), nampak tak berminat dengan buku-buku itu. Lalu aku mulai mencari beberapa pustaka lewat internet yang kuanggap cocok untuk remaja. Bertemulah aku dengan serial Bumi karya Tere Liye. Aku membelikan novel Bumi, buku pertama dari serial itu.

Setidaknya ada tiga cara untuk mempertahankan daya tahan mereka membaca buku. Pertama,  novelis Amerika Serikat, James Baldwin, pernah mengatakan "children have never been good at listening to their elder, but they have never failed to imitate them".  Seorang anak tak pernah baik untuk mendengarkan kata-kata orang tua, tapi mereka tak pernah gagal menirunya. Teladan. Itu yang dibutuhkan oleh anak-anak. Maka aku pun harus membaca. Saat itu aku membaca seri Majapahit karangan Langit Kresna Hariadi.

Kedua, menyediakan bukunya. Kubeli dari lokapasar atau meminjam di perpustakaan. Perpustaakan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki dua tempat peminjaman buku yang sering kukunjungi. Ketiga, meminta anak-anakku menceritakan ulang apa yang telah dibacanya. Biasanya untuk setiap satu atau dua bab yang sudah dibaca. Proses ini oleh Charlotte Mason, pendidik asal Inggris, disebut narasi. Tujuannya untuk memastikan anak memahami apa yang mereka baca. Sebaliknya, aku harus memberi perhatian untuk mendengarkan cerita mereka.

Minggu, 04 Januari 2026

Namaku Alam


Dada sesak lantaran merasakan pilu dan mendongkol, sekaligus larut dalam kehangatan hubungan keluarga dan persahabatan dari kehidupan tokoh utama dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Sebegitu emosionalnya membaca novel yang sebetulnya sudah kumulai di akhir tahun 2025 lalu ini, menjadikannya buku fiksi pertama yang kutamatkan di awal tahun 2026. Aku membaca cetakan keduabelas buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2025 yang berisi 438 halaman dengan sampul warna merah bergambar burung nasar.

Segara Alam, tokoh utama dalam novel fiksi ini, adalah anak dari Hananto Prawiro, tahanan politik (tapol) yang ditembak mati pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Hananto seorang wartawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi yang oleh rezim saat itu dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia,  partai yang dituduh melakukan gerakan kudeta itu.

Sebagai anak bungsu yang hidup bersama Ibu dan kedua kakak perempuannya, Segara Alam tidak banyak mengetahui kisah kelam keluarganya. Alam lahir di tahun yang sama saat terjadinya Gerakan 30 September. Alam yang masih bayi turut dibawa ke ruang tahanan bersama kedua kakaknya saat Ibunya diinterogasi, mengalami pelecehan dan penyiksaan lantaran bapaknya menghilang. Bapaknya tertangkap saat Alam berusia tiga tahun. Kemudian ditembak mati saat Alam berusia lima tahun.

Selasa, 02 Desember 2025

Laut Bercerita


Setiap hari minggu di rumah, Bapak, Ibu, Biru Laut, dan Asmara Jati makan bersama masakan Ibu sambil memutar piringan hitam mendengarkan lagu The Beatles. Sebuah tradisi keluarga yang bermukim di Ciputat. Kelak Bapak selalu menyediakan satu piring yang akan tetap kosong hingga waktu makan berakhir, karena Biru Laut tak pernah lagi hadir, hilang sejak Maret 1998. 

Novel Laut Bercerita ini buku kedua karya Leila S. Chudori yang kubaca setelah Pulang. Berkisah tentang sekelompok mahasiswa yang hilang di penghujung Orde Baru, serta kegetiran keluarga yang ditinggalkan. Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, buku ini termasuk paling digemari pembaca. Di bulan September-November 2025, status ketersediaannya selalu kosong saat aku melakukan pencarian di mesin atau menanyakannya kepada petugas penjaga.  

Buku setebal 379 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2017 ini berisi dua bagian dari dua sudut pandang. Bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, sebagai tokoh utama dalam cerita. Dengan alur cerita yang maju-mundur, bercerita tentang sekolompok mahasiswa Jogja yang membentuk kelompok diskusi rahasia dan melakukan perlawanan kepada penguasa bersama buruh dan petani. Kegiatan yang dilakukan di bawah bayang-bayang militer. Intimidasi dan kekerasan senantiasa menyertai, hingga masa penculikan, penyekapan, dan penyiksaan itu tiba.  

Sementara bagian kedua dilihat dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Bercerita tentang upaya keluarga yang tak pernah lelah mencari dan mempertanyakan anggota keluarganya yang hilang.

Jumat, 28 November 2025

Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata


Buku setebal 592 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia karya Remy Sylado ini sebuah novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama Gertruida van Veen bersama kekasihnya yang seorang pelukis, Rob Verschoor, pergi merantau dari Amsterdam menuju Hindia-Belanda setelah ditawari sebuah pekerjaan melukis untuk seorang bangsawan di Jogja dan sebuah proyek pameran lukisan di Bandung. 

Tanpa mereka sadari tawaran pekerjaan itu upaya manipulatif untuk menjerumuskan Gertruida, yang memang berparas cantik, dalam bisnis prostitusi di Bandung yang dikelola oleh seorang Belanda. Niscaya Gertruida dan Rob harus melalui jalan berliku menghadapi setiap persoalan yang akan mereka alami di Hindia-Belanda.

Belajar sejarah dan memperkaya kosakata. Itu kesanku setelah membaca empat buku karya Remy Sylado (Novel Pengeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata). 

Remy Sylado selalu menyisipkan fakta-fakta sejarah dalam karya fiksinya. Misalnya dalam buku Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata ini yang latar waktu ceritanya di sekitar tahun 1920-1930, selain mengenalkan sejarah gedung dan nama-nama jalan pada masa itu, khususnya di Bandung, Remy Sylado juga memotret tumbuhnya pergerakan kemerdekaan Indonesia, semacam Indische Partij atau Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).

Senin, 17 November 2025

Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa


Setelah membaca dua karyanya Novel Pangeran Diponegoro dan Kerudung Merah Kirmizi, aku langsung menggemari gaya penulisan Remy Sylado yang menurutku lugas, sarat informasi, dan mengenalkanku pada kosakata yang tak lazim. Aku melanjutkan membaca karya lainnya Perempuan Bernama Arjuna. Kisah mahasiswi filsafat yang kuliah di Amsterdam, Belanda. 

Sayangnya aku hanya sanggup membaca sampai setengah buku, lantaran sedang malas dengan topik berat yang diangkat dalam novel itu, yaitu filsafat. Sebenarnya buku menarik, hanya kubaca pada waktu yang tidak tepat. Buku itu serupa Dunia Shopie karya Jostein Gaarder.

Aku kembalikan buku Perempuan Bernama Arjuna ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Perpustakaan Jakarta dan menggantinya dengan Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa, buku yang pada tahun 2002 pernah diadaptasi menjadi film oleh sutradara Nia Dinata.

Bercerita tentang kisah Siti Nurhayati atau Tinung, perempuan Betawi yang buta huruf. Setelah ditinggal mati oleh lelaki yang telah menjadikannya istri kelima, keadaan memaksa Tinung terjerumus dalam dunia prostitusi di Kali Jodo, Batavia. Tinung diajarkan menari dan menyanyi sebagai bekal menjadi perempuan penghibur.

Minggu, 09 November 2025

Pangku, Cinta dan Ketabahan dalam Kemiskinan

 

Kemiskinan begitu lekat dengan masyarakat pesisir atau pinggiran, namun mereka tabah menghadapi persoalan yang silih berganti. Terutama kekuatan seorang Ibu. Kondisi itu digambarkan persis oleh Reza Rahadian dalam debutnya sebagai sutradara di film "Pangku" yang kutonton sore tadi bersama istriku, Afidah, di bioskop dekat rumah, Kota Cinema Mall (KCM) Wisma Asri Bekasi. 

Pangku merujuk pada istilah "Kopi Pangku" praktik prostitusi yang tumbuh dan kembang sejak zaman kolonialisme Belanda di sepanjang Jalan Raya Pos atau Daendles atau Pantura. Ahmad Effendi mengulas itu dengan apik melalui tulisannya "Kopi Pangku, Jejak Kolonial yang Menyala Remang di Pantura" di laman Mojok.

Sartika (Claresta Taufan), yang tak diketahui asal-usulnya, nekat pergi dari rumah seorang diri dalam keadaan hamil 8 untuk mencari pekerjaan. Truk tumpangan menurunkannya di pinggiran Jalan Pantura. Lalu dia singgah di warung kopi yang sepi milik perempuan tua, Maya (Christine Hakim). Lantaran iba hati, Maya mengajak Sartika hidup bersama dan menganggapnya sebagai anak. Sartika bekerja serabutan. Anak yang dikandungnya lahir dan diberi nama Bayu (Shakeel Aisy). Terdesak oleh kebutuhan ekonomi, Sartika pada akhirnya terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi Maya dan jatuh di setiap pangkuan pelanggan lelaki. Warung menjadi ramai. Hingga suatu hari datang Hadi (Fedi Nuril), sopir mobil muatan ikan, pelanggan yang memberi cinta dan harapan kepada Sartika dan Bayu. 

Film itu terbilang minim dialog, tapi peran Claresta Taufan, Fedi Nuril, Shakeel Aisy, dan Christine Hakim menjadikannya begitu nyata dan hidup, membuatku larut dalam suasana haru dan menahan tangis (Bekasi, 8 November 2025).

Minggu, 02 November 2025

Nonton Efek Rumah Kaca di Bekasi


Konser musik Specteve 2025 di Revo Mall Bekasi, Sabtu, 1 November 2025, menjadi penawar hasratku menonton penampilan langsung grup musik kesukaanku, Efek Rumah Kaca (ERK). 

Dalam durasi sekitar satu jam dari Panggung Specters, ERK mendendangkan sembilan lagu memicuku bernyanyi lantang bersama, meski tak diikuti lompatan lantaran aku masih dalam masa pemulihan pasca operasi. Dibuka dengan Seperti Rahim Ibu, lagu yang liriknya ditulis oleh jurnalis perempuan, Najwa Shihab.

Begitu lagu usai, tanpa basa-basi  Cholil (vokal, gitar), Poppy (bass), Akbar (drum), dan personil tambahan lainnya melanjutkan dengan Mosi Tidak Percaya. Kemudian Di Udara, lagu yang didedikasikan untuk mendiang Munir, membuat penonton yang mayoritas generasi Z mengepalkan tangan ke atas dan bernyanyi bersama. Lalu dilanjutkan Sebelah Mata, Balerina, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Cinta Melulu, Putih, dan ditutup manis dengan lagu Desember. Tak ada lagu dari album Rimpang dinyanyikan pada konser ini.

Konser ini mengingatkanku pada kenangan lima belas tahun lalu, kala ERK masih memiliki dua album, saat itu aku bersama kawanku, Ruly, menonton konser mereka di Semarang tahun 2010. Konser saat ini aku ditemani istriku, Afidah. Menikmati waktu kebersamaan kami tanpa anak-anak.

Sabtu, 25 Oktober 2025

Kerudung Merah Kirmizi


Terkesan akan gaya penulisan Novel Pangeran Diponegoro, aku tertarik membaca karya lain Remy Sylado, nama pena dari Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. 

Saat melakukan peminjaman buku di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Perpustakaan Jakarta, ada tiga pilihan judul buku: Cau Bau Kan, Paris Van Java, dan Kerudung Merah Kirmizi. Aku pilih judul terakhir karena memiliki cerita dengan alur waktu di sekitar era reformasi. Buku dengan tebal 674 halaman terbitan Keputakaan Populer Gramedia.

Bercerita tentang ambisi Sampurno atau Oom Sam, pengusaha pun pensiunan ABRI, yang menginginkan tanah seluas 32 ha di wilayah Gelgel, Bali. Sebab di tanah itu tertanam harta rampasan serdadu Jepang. Tanah itu milik guru besar ekonomi yang terkenal, Luc Sondak dan anaknya, Laksmi.

Melalui Dela Hastuti, orang kepercayaan sekaligus keponakan dan pemuas hasrat seksualnya, Oom Sam mendekati Luc dan Laksmi. Dalam proses negosiasi itu Luc Sondak bertemu dan menjalin kasih dengan Myrna Andriono, penyanyi klub di sebuah hotel di Jakarta.

Laksmi menolak menjual tanahya. Jelas itu membuat marah Oom Sam, orang yang bertabiat menghalalkan segala cara, termasuk menggunakan pesuruh dari kepolisian dan militer untuk melakukan kekerasan.

Operasi Ambeien dalam Hidupku


"Bisa dimasukin lagi gak?" tanya dokter perempuan di Klinik Amelia (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama), saat aku memeriksakan wasir atau ambeienku yang sedang kambuh, Senin, 20 Oktober 2025.

"Belum saya coba, Dok, tapi kayaknya udah gak bisa deh" jawabku.

"Saya kasih rujukan aja ke rumah sakit ya" saran dokter.

Lalu aku minta diberi rujukan ke Rumah Sakit Tiara Bekasi untuk hari yang sama. RS Tiara menjadi pilihan karena lokasinya yang dekat dengan rumah.

Wasir atau ambeien yang istilah medisnya hemoroid, adalah pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus. Aku sudah beberapa kali mengalami, tapi kali ini yang paling parah. Pembengkakannya sudah sampai keluar anus. 

Selasa, 21 Oktober 2025

Alkemis dan Diponegoro


Selasa lalu, 30 September 2025, berkunjung ke Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki. Mengembalikan dan meminjam dua buku baru. Alkemis karya Paulo Coelho dan Novel Pangeran Diponegoro Menggagas Ratu Adil karya Remy Sylado. 

Alkemis bercerita tentang seorang anak penggembala domba di Andalusia atau Spanyol bernama Santiago. Dia bersama domba-dombanya melakukan perjalanan untuk mencari harta karun yang berdasarkan mimpinya ada di Mesir. Paulo Coelho menuturkan kisah Santiago seperti dongeng yang penuh kebijaksanaan yang disampaikan melalui tokoh-tokoh di dalamnya.

Novel Pengeran Diponegoro ditulis mendiang Remy Sylado, orang yang serba bisa. Meskipun sudah lama kutahu sosoknya, juga buku populernya yang sudah diangkat dalam film dengan judul sama Cau Bau Kan, tapi baru kali ini aku membaca karyanya. Lantaran karena aku malas membaca buku. 

Bangsawan keraton Jogja yang melawan Belanda dalam Perang Jawa. Cuma itu yang aku tahu tentang Pangeran Diponegoro sebelum membaca karya Remy Sylado. Melalui tokoh dalam novel, Ratnaningsih, seorang jurnalis yang sedang membuat liputan, Remy Sylado menuturkan fakta-fakta tentang Ontowiryo yang selama ini kukenal sebagai Pangeran Dipenogoro. Buku ini menarik dan menambah wawasan. (Bekasi, 5 Oktober 2025)

Barasuara, Riuh dan Energik


Lantaran gemar memutar video musik Efek Rumah Kaca di Youtube, algoritma menuntunku ke grup Barasuara. Saat itu tahun 2016, aku masih bekerja dan menetap di Semarang. Api dan Lentera lagu pertama yang kudengar. Suara gitar, bass, dan drum begitu hidup, vokalnya pun riuh. Aksi panggungnya energik dengan keunikan vokalisnya yang kerap menggunakan batik.

Saat itu grup dengan personil Iga Massardi (vokal, gitar), Asteriska (vokal), Puti Chitara (vokal, keyboard), Gerald Situmorang (bass), TJ Kusuma (gitar), dan Marco Steffiano (drum) ini ternyata baru merilis satu album debut berjudul Taifun di tahun 2015.

Album Taifun berisi sembilan lagu yaitu Nyala Suara, Sendu Melagu, Bahas Bahasa, Hagia, Api dan Lentera, Menunggang Badai, Tarintih, Mengunci Ingatan, dan Taifun. Semua lirik berbahasa Indonesia dengan pemakaian diksi yang menarik, kebanyakan lagu dinyanyikan secara repetitif.

Jumat, 17 Oktober 2025

Sehari dalam Hidup Abed Salama


Serasa menonton film berdasarkan kisah nyata saat membaca setiap lembar buku non-fiksi Sehari dalam Hidup Abed Salama karya Nathan Thrall, jurnalis berkebangsaan Amerika yang menetap di Yerusalem ini. Sebuah laporan jurnalisme yang dikemas dengan apik dan pilu tentang kondisi warga Palestina, khususnya di wilayah Tepi Barat, di bawah pendudukan Israel. 

Sebuah kecelakaan bus sekolah yang membawa rombongan anak-anak TK dan gurunya. Bus tertabrak truk proyek milik Israel di sebuah jalan pinggir tebing saat cuaca buruk. Salah satu korban peristiwa yang terjadi pada tahun 2012 itu adalah Milad Salama, putra sulung Abed Salama, seorang warga Palestina yang tinggal di Anata, kota kecil di wilayah Al Quds, perbatasan Yerusalem dan Tepi Barat.

Kecelakaan itu menjadi permulaan cerita yang oleh Nathan diungkap melalui kesaksian banyak orang yang diwawancarai. Mulai dari sopir bus, sopir truk, relawan, tenaga kesehatan rumah sakit, otoritas Palestina, tentara Israel, dan tentunya Abed Salama sendiri. Tak sekadar peristiwa kecelakaan, potongan-potongan cerita itu pun mengungkapkan kehidupan bangsa Palestina dalam bayang-bayang Israel.

Buku terjemahan setebal 200 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini membuatku, yang tidak tahu banyak konflik Palestina-Israel, mendapat gambaran lebih dekat kehidupan bangsa Palestina yang terkekang akibat penerapan kebijakan apartheid oleh Israel yang memperlakukan mereka secara diskriminatif semacam penerbitan kartu identitas penduduk (kartu biru dan kartu hijau) dan pembangunan tembok pembatas wilayah.

Malapetaka. Sebuah penindasan dalam bentuk paling primitif, yang ironisnya dilakukan oleh 'bangsa terpilih' yang diakui kecerdasannya dan terjadi di era modern. (Jakarta, 16 Oktober 2025)

Jumat, 10 Oktober 2025

Rangga & Cinta, Mengenang Masa Muda


Karena perkembangan kognitif atau bertambahnya usia dan pengalaman hidup, film yang belasan tahun lalu pernah kutonton, memberikan sensasi berbeda ketika ditonton kembali. Itu kualami kemarin, ketika menonton film "Rangga & Cinta" di bisokop dekat rumah, KCM Wisma Asri. Meski menampilkan pemeran yang seluruhnya baru, tapi alur ceritanya sama dengan "Ada Apa Dengan Cinta?" yang dirilis tahun 2002. 

Hal lain yang membedakan adalah konsep musikal yang memberi kesegaran, walaupun genre film musikal masih sulit diterima di hati penonton, tapi Riri Reza, selaku penulis dan sutradara, cukup berani dan percaya diri menawarkan film demikian. Petualangan Sherina dan Bebas dua film Riri lainnya yang bergenre musikal.

Di Rangga & Cinta, aku paling suka karakter Alya yang diperankan Jasmine Nadya. Peran Leya Princy sebagai Cinta juga menarik karena seperti melihat Dian Satro di layar. Sementara El Putra sebagai Rangga suaranya merdu. Adegan Rangga memainkan piano dan menyanyikan lagu Suara Hari Seorang Kekasih amat elok.

Buku "Aku" karya Sjuman Djaya tetap menjadi perantara kedekatan Rangga dan Cinta. Buku "Gadis Pantai" karya Pramoedya Ananta Toer juga sempat dilirik oleh Cinta dalam salah satu adegan. (Bekasi, 10 Oktober 2025)

Nelson Mandela, Anak Kepala Suku Penentang Apartheid

 

Penerbit Binarupa Aksara menerbitkan buku Jalan Panjang Menuju Kebebasan Otobiografi Nelson Mandela ini pada tahun 1995, terjemahan dari buku Long Walk To Freedom The Autobiography of Nelson Mandela. Terdiri dari 623 halaman dan 8 bagian. Kisah seorang yang kehidupannya menginspirasi pemberian nama untuk anak sulungku. 

Nelson Rolihlahla Mandela lahir pada 18 Juli 1918 di sebuah desa distrik Umtata, Transkei. Transkei pernah menjadi negara saat Afrika Selatan masih berada di bawah rezim apartheid. Saat ini Transkei melebur menjadi bagian wilayah Provinsi Tanjung Timur, Afrika Selatan.

Mandela berasal dari Suku Thembu yang merupakan bagian dari bangsa Xhosa. Bangsa terbesar yang ada di Transkei. Sejak kecil ia dipanggil "Madiba", nama yang diambil dari nama Kepala Suku Thembu di abad 18. Panggilan itu menurutnya sebagai bentuk penghormatan.

Saat usianya 9 tahun, setelah ayahnya yang pernah menjabat sebagai kepala suku meninggal, Mandela kemudian diangkat menjadi anak oleh seorang wali raja, Jongintaba, yang merasa berutang budi pada ayah Mandela. Mandela kemudian akrab dengan Justice, anak laki-laki dari Jongintaba. Saat berada dalam pengasuhan Jongintaba inilah Mandela mendapatkan pendidikan modern yang dikembangkan oleh misionaris gereja. Tujuannya agar kelak Mandela dapat menjadi seorang penasihat raja.

Selasa, 30 September 2025

Terima Kasih, Madiba


Dear, Dad
The first man i fell in love with

You welcome me into the world, tugging me in your warm everyday. We watched the bird circling ahead of the sky as we laughed together and witnessed every moment of nature. You introduced me to a thing named 'art', the thing i've been admiring since then, until now. 

How weird, now that my heigh is the same as your neck. The little girl whose potrait you drew and become our clock frame is now sketching your face in her sketchbook. 

Keeping your young dreamer soul alive inside of it as you kept going older. Sometimes, i miss the past. I miss the time when i didn't know anything. But you lead me, in a new path that only our footprints traced on it.

I never thought i would love you so much, Dad. But I do, always do.

By: Your most calm, yet easy-angered oldest daugther.

***

Sabtu, 20 September 2025

Sembilan Belas Kota, Dua Belas Negara



Catatan ini adalah dokumentasi perjalananku ke sembilan belas kota di dua belas negara, sejak tahun 2018 sampai dengan tahun 2025, yang kukunjungi bersama keluargaku maupun rekan kerja. Dua belas negara itu adalah Arab Saudi, Australia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Amerika Serikat, Qatar, Belanda, Belgia, Thailand, Filipina, dan Inggris. 

Sejauh mana pun aku pergi, Indonesia dengan segala keterbatasannya selalu kurindukan. Seperti lagu Tanah Airku karya Saridjah Niung atau lebih dikenal Bu Sud "biarpun saya pergi jauh tidak 'kan hilang dalam kalbu, tanahku yang kucintai, engkau kuhargai".

Kamis, 18 September 2025

Rumah Kertas


Buku tipis yang terdiri dari 79 halaman terbitan Marjin Kiri, berjudul Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez yang kubawa dalam perjalanan kerja ke Jayapura, Papua. Buku yang bercerita tentang sosok Aku, sebagai tokoh utama, yang harus menggantikan posisi Blumma Lennon, Profesor pada jurusan sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge, yang meninggal tertabrak mobil saat berjalan sambil membaca buku 'Poems' karya Emily Dickinson. 

Aku menemukan paket yang berasal dari Uruguay (tanpa identitas pengirim) dan dialamatkan kepada mendiang Blumma di ruang kerjanya. Paket tersebut berisi buku 'La linea de sombra' terjemahan spanyol dari 'The Shadow Line' karya Joseph Condrad. Buku lawas yang ternoda serpihan semen.

Aku kemudian mencari tahu siapa pengirimnya dan berniat mengembalikan buku tersebut, itu dia lakukan sembari pulang kampung ke Buenos Aires, Argentina. Dalam pencariannya, Aku bertemu dengan para penggila buku untuk sampai menuju pada sosok Carlos Brauer, sang pengirim buku.

Membaca buku ini seperti membuka kontak pandora yang berisi daftar pustaka sastra karya-karya penulis tersohor. Buku ini juga menceritakan tingkah-tingkah 'aneh' penggila buku. (Jayapura, 4 Desember 2024)

Selasa, 09 September 2025

Efek Rumah Kaca, Realitas Sosial Dalam Lagu


Suatu ketika di sekitar tahun 2009, aku membaca berita seputar musik. Dalam berita itu, Arian, vokalis grup musik metal Seringai, menyebut nama sebuah grup musik yang lagunya menurut Arian menarik untuk didengarkan. Grup itu bernama Efek Rumah Kaca (ERK). Seingatku, itulah pertama kalinya aku tahu ada grup yang personilnya terdiri dari Cholil (vokal, gitar), Adrian (Bass), dan Akbar (Drum) itu. 

Sekitar tahun 2010 saat ERK tampil di sebuah acara musik di Semarang aku menyaksikannya, karena kebetulan aku tinggal di Semarang. Adrian, sang bassist yang mengalami gangguan mata, saat itu masih bisa tampil berdiri meski untuk berjalan menuju panggungnya harus didampingi. Itu konser ERK satu-satunya yang pernah kutonton. Selebihnya aku hanya mengikuti karya-karyanya melalui berita dan media sosial.

Hingga saat ini, grup musik yang kugemari ini telah merilis empat album studio: Efek Rumah Kaca (2007), Kamar Gelap (2008), Sinestesia (2015), dan Rimpang (2023), serta satu mini album Jalam Enam Tiga (2020) yang direkam di Amerika Serikat.

Kamis, 04 September 2025

Perunggu, for Revenge, dan Koil


Beberapa hari lalu dalam perjalanan dari bandara menuju rumah, sambil menyetir mobil bosan mendengar radio, lalu kubuka spotify dengan earbuds terpasang di telinga. Kuputar lagu-lagu dari Perunggu dan for Revenge, dua grup musik yang namanya sering terdengar di skena musik indie, tapi lagu-lagunya tidak pernah kudengarkan, kecuali lagu yang hit seperti "33x" dan "Serana".

Secara acak kuputar lagu-lagu Perunggu. Mulai dari 33x, Pikiran Yang Matang, Pastikan Riuh Akhiri Malammu, Tapi, dan Kalibata 2019. Ah, aku tidak suka dengan karakter suara vokalnya, susah menikmati musiknya dan terasa menjemukan, tapi sebetulnya gaya penulisan dan tema-tema liriknya menarik.

Lalu kuganti dengan lagu-lagu for Revenge. Mulai dari Serana, Jentaka, Jakarta Hari Ini, Sadrah, dan Penyangkalan. Musik dan suara vokalnya bisa kunikmati, meski lirik-liriknya kebanyakan seputar cinta-cintaan yang melankolis dan kurang variatif. 

Karena merasa kurang terhibur, kuputar lagu Koil yang nampaknya agak religius, tapi belum pernah kudengar. Dimulai dengan percakapan tiga orang batak "bertobatlah engkau umat beragama" begitu kata terakhirnya. Kemudian lagu dimulai. "Beragama yang kau anut menjanjikan surga"

Ada penggalan lirik yang membuatku ketawa "kabar yang kuterima, tak ada wifi di alam baka, tak ada sosial media, hanya bidadari tujuh dua, yang entah gunanya apa" langsung terbayang sosok Otong, sang vokalis, yang serius tapi lucu. Maju terus musik Indonesia. (30 Agustus 2025)

Siapa Dia, Sejarah Film di Indonesia


Aktor Nicholas Saputra diidolakan banyak perempuan, termasuk istriku, Afidah. Ini bukan catatan lelaki kalem nan tampan itu, tapi film terbarunya "Siapa Dia" garapan sutradara Garin Nugroho, yang semalam kutonton di bioskop di Summarecon Mall Bekasi. Film musikal yang menarasikan sejarah perkembangan seni pertunjukan atau perfilman di Indonesia. Sejak era kolonial belanda sampai pasca reformasi. 

Kisah tentang Layar (Nicholas Saputra) seorang sutradara, yang mengalami kebuntuan ide pasca kesuksesan film sebelumnya. Lalu dia berkunjung ke rumah tantenya, Kenes (Sita Nursanti) dan menemukan koper peninggalan keluarga yang berisi dokumen perjalanan hidup buyut, kakek, dan ayahnya. Dari situlah muncul inspirasi membuat film. 

Film terdiri dari 5 babak, terdiri dari: (1) Prolog yang mengawali cerita tentang isi koper; (2) kisah buyut; (3) kisah kakek; (4) kisah ayah; dan (5) Epilog. Dari film ini aku jadi tahu, ada kelompok teater keliling bernama Komedi Stamboel di era penjajahan kolonial belanda. Tidak sekadar menghibur, kelompok ini memiliki peran politik karena menjadi alat pengalih perhatian pemerintah belanda dari pergerakan buruh kereta dan sarekat islam yang saat itu sedang berkembang. Di dalam film digambarkan Nurlela (Monita Tahalia) aktris dari Komedi Stamboel, kekasih tak sampainya kakek buyut Layar, dihukum mati dengan cara ditembak. 

Di era kolonial belanda juga muncul film Loetoeng Kasaroeng, yang konon merupakan film pertama di Indonesia. Di masa penjajahan jepang, ada upaya pengajaran pembuatan film tapi untuk kepentingan propaganda rezim fasis jepang. Ah, rasanya lebih nikmat menonton langsung daripada menceritakan film bagus ini. (31 Agustus 2025)