Selasa malam, 6 Oktober 2026, aku dan anak sulungku, Madiba, menyaksikan pementasan teater dengan judul Delirium Amangkurat oleh kelompok Teater diRI di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Lakon yang diadaptasi dari naskah drama Amangkurat, Amangkurat karya Goenawan Mohamad.
Tentang akhir hidup Raja Mataram, Amangkurat I, pada masa pengungsian di sekitar pantai utara Jawa setelah kekuasaannya digulingkan oleh Pangeran Madura, Trunojoyo. Amangkurat I dikenal sebagai penguasa kejam dan otoriter. Alur cerita sesuai naskahnya bergerak maju-mundur, dengan properti yang mininalis, namun ada beberapa adegan improvisasi.
Pementasan lakon ini adalah pertunjukan kedua dari rangkaian Festival Teater Jakarta yang rencananya akan menghadirkan 15 pertunjukan dalam rentang waktu 5-23 Oktober 2026 di Teater Kecil, TIM.
Pada waktu yang bersamaan di lantai 2 Gedung Trisno Seomardji TIM juga diselenggarakan Jakarta Bienale 2026 yang bertajuk Kebal. Kami menyempatkan berkunjung sambil menghabiskan waktu tunggu pertunjukan teater. Jakarta Biennale akan berlangsung mulai 4 Oktober 2026 hingga 28 November 2026.